Rabu, 02 Desember 2015

Cerpen lingkungan

ALAM

Pada suatu hari yang sangat tenang dan damai, dimana burung berkicau dengan suka cita dan pepohonan sedang bermain dengan angin menari – nari ke sana kemari hingga menghasilkan gerakan yang sangat indah. Namun, ketenangan itu kini terusik dengan suara mesin yang merong – rong memilukan hati, dan juga suara gemuruh dari pepohonan yang tumbang.

Tak jauh dari tempat tersebut, tinggalah seorang kakek yang sangat tua dan renta. Ia terbangun dari tidur siangnya akibat dari suara yang memekikan telinga itu. Dengan segera sang kakek bangun dari kursi bambunya dan menuju sumber suara tersebut.

“Hey kalian hentikan perbuatan itu,” teriak sang kakek kepada gerombolan penebang kayu itu.
Tetapi, para penebang kayu di dalam hutan itu tidak menggubris sedikitpun perkataan kakek. Setelah berusaha dengan sekuat tenaga, sang kakek berhasil mendekat ke arah penebang kayu. Dia pun menghentikan penebangan tersebut dengan berdiri di dekat gergaji mesin itu.

“Apa yang kau lakukan Pak Tua, apa kau mau cari mati,” teriak salah seorang di antara mereka.
“Aku tidak akan membiarkan kalian terus menebang pepohonan di hutan ini. Apakah kalian tidak mengetahui bahwa banyak sekali makhluk hidup yang sangat bergantung dengan mereka. Apakah kau juga tidak mengetahui akibat yang akan terjadi jika semua pohon di sini habis kau tebangi,” teriak kakek itu.

Para penebang pohon yang merasa terganggu dengan kehadiran sang kakek merasa kesal, bahkan mereka membawa sang kakek dengan paksa untuk menjauhi lokasi tersebut.

Pohon yang mereka tebangi merupakan kawasan hutan yang berada di atas bukit. Hutan tersebut pada mulanya sangat asri, tetapi semenjak kehadiran perusahaan Furniture di bawah kaki bukit itu, banyak orang berbondong – bondong menebang kayu untuk dijual.

Sang kakekpun tidak tinggal diam, segera dia pergi menemui kepala desa. Dia mengadukan semua kejadian itu. Namun, bukannya kepala desa itu membantunya, dia malah menyarankan sang kakek untuk pindah dari rumahnya dan tinggal di bawah bukit seperti mereka Mendengar jawaban tersebut sang kakek merasa kecewa, dia tidak menyangka ternyata orang – orang di sini juga ikut terlibat dengan kegiatan yang sangat memalukan itu. Dengan hati yang pedih kakek itu menuju rumahnya. Di sepanjang jalan dia termenung dan mengingat kembali masa – masa kecilnya. Masa dimana dia dan teman – temannya bermain di bukit itu. Banyak sekali binatang yang mereka temui, seperti burung dan rusa. Mereka juga selalu menjaga hutan itu. Tak jarang ketika sang kakek kecil, dia dan teman – temannya sering bertengkar dengan pemburu hutan. Namun kini, jaman telah berubah, hutan telah menjadi gundul dan binatang – binatang telah kehilangan tempatnya. Musuh mereka yang dahulu pemburu kini berubah menjadi penebang kayu.

Hal yang menambah kesedihan kakek itu adalah tiada lagi pemuda – pemuda yang peduli dengan hutan, bahkan merekalah yang menjadi aktor di balik kehancuran hutan. Setelah berjalan dengan cukup lama sang kakek pun tiba di rumahnya. Ia pun duduk di kursi bambunya dan mencari jalan keluar untuk menghentikan itu semua.

“Aku tidak bisa menghentikan para penebang kayu, kalau begitu aku akan menanam pepohonan. Jika mereka merubuhkan satu, akau akan menanam sepuluh,” ujar kakek tersebut.

Mulai dari hari itu sang kakek terus menanam pepohonan. Hari telah berganti, pepohonan di atas bukit telah hampir habis, dan pohon – pohon yang kakek tanam masih kecil. Perbuatan kakek ini dilihat oleh para penebang kayu itu, tetapi hati mereka tidak juga tergugah, malahan mereka menginjak – nginjak bibit yang kakek itu tanam. Kejadian tersebut semakin bertambah parah, mereka kini menebang kayu dengan menggunakan mesin yang lebih canggih.

Benar saja, tak sampai satu bulan pepohonan di atas bukit itu telah habis, yang ada hanyalah bibit – bibit kecil yang sedang berkembang. Hingga tibalah suatu hari yang sangat mengerikan itu. Hujan turun dengan sangat derasanya. Hujan itu bahkan terus berlangsung selama 3 hari 3 malam. Pada malam harinya ketika sang kakek tengah tertidur lelap, dia mendengar suara gemuruh yang sangat besar, tetapi karena kantuknya yang sangat luar biasa akibat kelelahan menanam pohon dia terus tertidur.

Keesokan paginya betapa terkejutnya sang kakek ketika melihat tanah yang ada di sekitar rumahnya amblas, lalu dia melihat ke arah perkampungan penduduk dia pun melihat suatu pemandangan yang sanat mengerikan, desa kecil yang berada tepat di bawah bukit itu kini telah hilang tertimbun tanah. Sang kakek pun merasa sedih karena usaha yang dia lakukan selama ini tidak bisa mencegah bencana yang ia takutkan itu. Meskipun begitu sang kakek bersyukur dia satu – satunya yang selamat dari kejadian itu. Dia merasa bahwa alamlah yang telah menolong dirinya.

Cerpen Pendidikan

PERJUANGAN SANG PAHLAWAN

Dipagi yang gelap gulita,aku dan sepeda tersayangku menuju hari yang baru.
seketika aku melihat bapak tua yang rumahnya sudah hampir rubuh,dan dengan sepedah ontelnya,ia ingin berangkat sama seperti ku menuju hari yang baru. ia seorang bapak yang ingin mengajar di SD letaknya dikota,sedangkan kota jauh dari rumahnya. aku pun terus memperhatikan bapak itu.
suatu ketika bapak itu menegurku.
" nak,,,sedang apa kau didepan pagar rumah ku?" kata bapak tua itu.!
" maaf pak,,saya penasaran dengan bapak sedang apa?". akupun menjawab pertanya bapak tua itu.!
"oouuhh... sini nak,masuk bapak sedang membetulkan sepeda tua milik alm.ayah bapak"..!!
"iyah pak,sungguh aku boleh masuk". aku menjawab dengan senyuman.!
"iyah nak,masuk saja''.
"assalamu'alaikum pak?
"wa'alaikum salam nak,kenapa di pagi yang masih gelap seperti ini kamu sudah keluar rumah nak,tidak takut terjadi apa-apa denganmu nak".!
"iya pak,saya ini masih Madrasah pak,saya ingin berangkat sekolah namun saya ingin lihat-lihat desa ini kalo sepagi ini pak hitung-hitung aku olah raga pak,diJakarta udaranya tak sejuk seperti ini..".
"oohh,,,kamu anak kota yang baru pindah kemarin yah nak?".
"iya pak,bapak sudah lama tinggal disini",. anak dan istri bapak kemana?". rasa ingin tau ku tentang bapak ini pun semangkin kuat.
"iya nak,bapak sudah lama tinggal disini,selama bapak lahir disini,anak dan istri bapak sudah meninggalkan bapak nak,sudah 2tahun yang lalu,bapak disini tinggal sendiri."
"maaf pak,aku membuat bapak sedih dengan pertanyaanku".
" tidak nak..!!! tak apa-apa..,kamu katanya ingin berangkat sekolah nanti kamu terlambat saja.?''. bapak tua ini untung saja mengingatkan ku.
"hhe.. iya pak hampir saja lupa,aku pamit ya pak,sepulangnya ku dari sekolah aku kesini lagi ya pak??
"iya nak,bapak tunggu.!"
"assalamu'alaikum pak?
"wa'alaikum salam nak,hati-hati yah di jalan?"
 
setelah ku berbincang-bincang,aku pun kembali mengoes sepedaku menuju sekolah.
waktunya pulang sekolah,aku capat-capat pulang sekolah dengan sepeda yang kencang untuk menuju rumah bapak tua itu,seketika sampainya aku,bapak itu belum pulang.
aku pun menunggunya. lima menit aku menunggu bapak tua itu pulang.
"hey nak,sudah lama kamu menunggu?'
"tidak pak,"
"yasudah ayo masuk nak,"
" iya pak,bapak darimana?"
"maaf nak,tadi bapak mengajar murid-murid bapak yang kurang mampu".
"dimana pak?"
"didesa sebelah".
"wah,jauh dong pak,memang tidak lelah pak? kan sangat jauh dari rumah bapak dan hanya menggunakan sepeda tua ini?"
" tidak nak,rasa lelah bapak sudah terganti dengan semangat anak-anak yang tak ada menyerahnya untuk menuntut ilmu."
"sungguh mulainya bapak ini".
"bisa saja kamu nak."
tiba-tiba bapak ini bantuk dan tak ada henti-hentinya."pak,bapak kenapa?"
aku pun segera menggambil teh hanggat."pak minum dulu,"
"terimakasih nak,bapak membuat kamu repot,"
"tidak pak,bapak sakit apa?".
" hanya kecapean saja nak".
"ya sudah bapak istirahat saja,aku pulang nanti pak?,sebelumnya aku boleh pak menjadikan bapak sebagai orang tua ku?,aku disini tinggal bersama nenek dan kakek ku,kedua orang tua ku meninggalkan ku saat aku masih kecil."
"iya nak,kamu juga sudah bapak anggap seprti anak bapak sendri,sudah jangan bersedih bapak akan selalu ada untuk mu nak".
"sungguh pak?,.iyah pak aku pullang,bapak disini istrahat yah pak,jangan lupa makan",asslamu;alaikum pak?"
" wa'alaikum salam nak,"

sudah seminggu aku pun menjadi murid barunya untuk pelajaran tambahan. ke akraban pun seperti seorang anak dan ayah. dan ketika aku sedang bercanda dan bercerita tiba-tiba bapak tua ini berpesan kepadaku " nak,sekarang kau lihat aku menjadi tua,tubuhku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri tegap,mataku pun sudah tak bisa melihat dengan jelas,ilmu yang telah ku berikan kepadamu,tetaplah kau kembangkan aku tau ilmu ku tak sehebatmu nak,namun bapak berpesan kepadamu Jangan mengeluh tentang harimu. Setiap harimu mungkin tak baik, namun percayalah ada sesuatu yg baik di setiap harimu.
aku pun binggung kenapa bapak bisa berkata itu?
"pak,bapak kenapa berkata seperti itu?"
"tidak nak,tidak apa-apa?,bapak boleh minta tolong nak?,buka pintu ada yang ingin masuk". bapak pun tersnyum.
"siapa pak?,kan tidak ada yang mengetuk pintu?"
"sudah nak,buka saja"
"tunggu sebentar yah pak".aku pun menuruti apa kata bapak itu.
"sudah pak,.!!! aku pun terkejud,ternyata tamu yang datang adalah malaikat yang ingin menjeput bapak,sungguh aku tak bisa menahan air mata ini,sunggu pahlawan ku.

aku pun segera menaiki sepeda dan memberi tau kan kepada RT setempat,.
dan warga pun datang untuk membatu mengurusi pemakaman. aku pun tak sanggup menahan air mata ini.
kata-kata motivasi dan perjuangan hidupnya suatu pengalaman yang sanggat berjuang untuk menciptakan generasi yang maju.

aku berjanji untuk bapak tua itu,suatu saat aku akan membanggun indonesia ini menjadi maju,dari ilmu yang belia berikan dan tekat nya untuk menjadikan ku sebagai murid yang cerdas meski aku baru mengenal beliau.

Selasa, 01 Desember 2015

Cerita Pendek Religi

Cerpen bertema religi 
HANYA PADAMU YA ALLAH AKU BERSUJUD
Annisa adalah seorang mahasiswi di sebuah PTS di Yogya. Ia merupakan mahasiswi perantauan yang berasal dari Surakarta. Dalam kehidupan kesehariannya, Annisa dikenal sebagai sosok pemalu yang berprestasi di bidang akademik. Ajaran agama yang kuat didikan Bapak dan Ibu Annisa membuat Annisa tidak pernah melupakan sholat 5 waktu serta berpuasa Senin - Kamis walaupun berada jauh dari pengawasan orang tuanya.
Berangkat dari sebuah keluarga sederhana dan hidup dalam kekurangan, membuat Annisa tidak bisa sering - sering pergi bersenang - senang layaknya teman - temannya yang lain. Jatah uang bulanan yang sangat mepet membuat Annisa harus bisa mengatur pengeluarannya dengan cermat supaya tetap bisa makan dan membeli kebutuhan pokok hidupnya yang lain. Tidak jarang, sikapnya yang penuh perhitungan iitu menuai kecaman serta cibiran dari teman-temannya. Inilah yang membuat Annisa tidak memiliki banyak teman di kampusnya, ditambah dengan sifatnya yang pemalu dan tertutup menjadikan Annisa sebagai salah satu mahasiswa yang tidak populer di kampusnya.
Suatu hari, karena Annisa terlalu capek mengerjakan tugas kuliah yang kahir-akhir ini memang sangat banyak, Annisa tanpa sengaja ketiduran di bis kota saat perjalanan pulang kuliah menuju ke asrama. Tanpa disadari, dompetnya terjatuh di dalam bis. Sesampainya di asrama, diapun terkaget - kaget karena tidak mendapati dompet di dalam tasnya. Padahal, dia baru saja mengambil uang kiriman dari orang tuanya untuk membayar biaya kuliah dan belanja kebutuhan sehari - hari. Dalam isak tangisnya yang sudah tidak bisa terbendung, Annisa segera mengambil wudlu dan melakukan sholat. Dalam doanya, Annisa memohon kepada Allah untuk bisa menemukan dompetnya kembali dalam keadaan utuh. Annisa yakin bahwa Allah tidak akan pernah salah memberikan cobaan kepada hambaNya melebihi kemampuan hambaNya tersebut.
2 hari sudah Annisa kehilangan dompetnya. Selama 2 hari tersebut, dia tidak pernah putus berdoa bahkan membaca surat Yassin dan berharap dompetnya bisa ditemukan kembali. Sepulang dari kampus sore itu, Annia menjumpai pesan di secari kertas yang ditempel di pintu kamar kostnya. Disitu tertulis: Tolong hubungi saya. Dan tertera sederet nomer telepon. Karena penasaran, Annisa pun segera bergegas ke wartel depan asrama. Setelah telepon tersambung, Annisa mengucap salam dan terdengar suara seorang perempuan. Ternyata perempuan itu adalah orang yang menemukan dompet Annisa yang terjatuh di bis. Setelah mencatat alamat, telepon pun ditutup. Tak perlu waktu lama untuk menuju alamt yang dimaksud karena hanya berjarak 2 gang dari asrama tempat tinggal Annisa. Setelah berbasa - basi sebentar, kemudian dompet pun diserahkan ke Annisa. Isinya masih utuh. Uang, kartu mahasiswa, dll, masih ada semua. Tak henti - hentinya Annisa mengucapkan Alhamdulillah sambil mendekap dompetnya erat - erat seolah takut kehilangan dompet itu lagi.
Sesampainya di Asrama, Annisa langsung melakukan sujud syukur sebagai bentuk rasa syukur atas ditemukannya dompet yang sudah 2 hari hilang. Dari cerita diatas, kita menjadi semakin paham bahwa Allah tidak akan menutup mata atas musibah serta masalah yang dialami oleh hambaNya. Bahwa dengan kesabaran serta tawakal, segala doa dan harapan kita pasti akan terwujud.